Sosial Media
0
News
    Home Astronomi Big Bang Eksoplanet Planet Sains Supernova University of Portsmouth

    Planet Mirip Bumi Ternyata Bisa Terbentuk 100 Juta Tahun Setelah Big Bang

    "Pembentukan planet mirip Bumi ternyata bisa dimulai 100 juta tahun setelah Big Bang. Simak fakta ilmiah yang mengejutkan ini!"

    2 min read

    Planet berbatu mungkin memiliki bahan-bahan yang dibutuhkan untuk terbentuk sangat awal, hanya 100 juta tahun setelah Big Bang. Kredit: AI/ScienceDaily.com 
    Peneliti dari University of Portsmouth mengungkap fakta mengejutkan yang merombak pemahaman kita tentang sejarah alam semesta. Berdasarkan simulasi terbaru, planet berbatu seperti Bumi ternyata secara teori sudah bisa mulai terbentuk hanya dalam waktu 100 juta tahun setelah ledakan Big Bang. Temuan ini menunjukkan bahwa pembentukan planet terjadi jauh lebih cepat dari perkiraan sebelumnya yang memakan waktu miliaran tahun.

    Terbentuk di Awal Sejarah Kosmik

    Dalam skala waktu kosmik, 100 juta tahun adalah durasi yang sangat singkat, yakni kurang dari satu persen dari usia alam semesta saat ini yang mencapai 13,8 miliar tahun. Selama ini, para ilmuwan percaya bahwa planet berbatu baru bisa terbentuk setelah beberapa generasi bintang mati dan memperkaya alam semesta dengan unsur berat. Namun, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa cikal bakal planet terestrial mungkin sudah muncul bahkan sebelum galaksi pertama terbentuk sepenuhnya.

    Peran Supernova Bintang Pertama

    Kunci dari pembentukan planet yang sangat awal ini adalah keberadaan bintang-bintang pertama yang sangat masif, yang dikenal sebagai bintang Populasi III. Bintang-bintang ini mengakhiri hidup mereka dalam ledakan dahsyat yang disebut pair-instability supernova.

    Apa itu bintang Populasi III?

    Bintang Populasi III adalah generasi bintang pertama yang terbentuk di alam semesta, muncul sebelum galaksi-galaksi besar ada. Berbeda dengan bintang generasi belakangan seperti Matahari, bintang-bintang ini bersifat bebas logam (metal-free), karena mereka terbentuk dari gas murni hasil Big Bang yang hanya mengandung hidrogen, helium, dan sedikit litium. Dalam astronomi, istilah "logam" merujuk pada semua unsur yang lebih berat daripada helium.

    Berikut adalah beberapa ciri khas utama dari bintang Populasi III berdasarkan sumber yang tersedia:

    • Ukuran dan Suhu: Bintang-bintang ini diperkirakan jauh lebih panas dan sangat masif dibandingkan Matahari kita, dengan massa berkisar antara 120 hingga 260 kali massa Matahari.
    • Masa Hidup Singkat: Karena ukurannya yang raksasa, mereka membakar bahan bakarnya dengan sangat cepat sehingga memiliki usia yang sangat pendek.
    • Pabrik Unsur Berat: Mereka berfungsi sebagai sumber utama pertama unsur-unsur berat di alam semesta. Saat bintang-bintang ini mati dalam ledakan dahsyat yang disebut supernova Populasi III, mereka menyebarkan elemen seperti karbon, oksigen, dan besi ke ruang angkasa.
    • Ledakan Pair-Instability: Beberapa dari bintang ini mengalami jenis ledakan yang sangat kuat yang disebut pair-instability supernova, yang mampu memuntahkan material berat hingga lebih dari 100 kali massa Matahari dalam satu kejadian.

    Peran bintang Populasi III sangat krusial karena material sisa ledakannya menyediakan "bahan bangunan" yang diperlukan untuk membentuk bintang generasi berikutnya yang berukuran lebih kecil, serta cakram debu tempat planet berbatu mulai terbentuk. Meskipun secara teoritis keberadaannya sangat diyakini, hingga saat ini para ilmuwan belum pernah mengonfirmasi atau mengamati secara langsung satu pun bintang Populasi III secara individu.

    Ledakan tunggal dari bintang-bintang raksasa ini mampu menyebarkan unsur-unsur berat seperti karbon, oksigen, dan besi dalam jumlah masif ke ruang angkasa, mencapai lebih dari 100 kali massa Matahari. Material sisa ledakan inilah yang kemudian menjadi bahan baku utama untuk membentuk cakram di sekitar bintang muda, tempat planet-planet mulai tercipta.

    Ditemukannya Kandungan Air yang Signifikan

    Simulasi yang dipimpin oleh Dr. Daniel Whalen menunjukkan adanya cakram debu di sekitar bintang muda yang memiliki massa sekitar 70 persen dari massa Matahari. Di dalam cakram tersebut, terkumpul material padat yang cukup untuk membentuk beberapa planet seukuran massa Bumi.

    Hal yang lebih mengejutkan adalah ditemukannya kandungan air dalam jumlah yang signifikan di dalam cakram tersebut. Meskipun planet yang terbentuk di wilayah dalam mungkin cenderung kering, keberadaan air di sistem tersebut membuka peluang bahwa planet-planet awal ini bisa menerima pasokan air melalui proses tabrakan benda langit, mirip dengan sejarah terbentuknya lautan di Bumi.

    Potensi Kehidupan yang Lebih Tua

    Temuan yang dipublikasikan dalam The Astrophysical Journal Letters ini membuka babak baru dalam pencarian kehidupan di luar angkasa. Jika kondisi untuk membentuk planet berbatu sudah ada sejak fajar kosmik, maka muncul pertanyaan menarik: mungkinkah dunia yang berpotensi layak huni juga muncul jauh lebih awal dalam sejarah alam semesta?

    Dr. Whalen menyarankan bahwa beberapa sistem planet kuno ini mungkin masih bertahan hingga sekarang dan bisa saja berada di dalam galaksi Bima Sakti. Bintang dengan massa rendah yang terbentuk di masa itu memiliki usia yang sangat panjang, sehingga mereka masih mungkin bersinar hari ini dengan planet-planet tua yang mengorbit di sekitarnya. Temuan ini memicu semangat baru bagi para astronom untuk mencari bukti fisik dari keberadaan dunia-dunia purba tersebut melalui misi luar angkasa di masa depan.
    Komentar
    Additional JS